Kamis, 04 Februari 2021

PILIHAN

 “Kak, ga tgl *** aja kita’ pulang? biar bisa lama-lama? yang lain juga begitu..”

“Nanti kita lihat ya.. saya pertimbangkan dulu”


Percakapan antar suami istri yang setengah terkejut karena pihak kampus mengabarkan bahwa mahasiswa indonesia harus segera pulang dalam waktu dekat. 


6 bulan. Durasi terlama ia pulang selama liburan tersebab pandemi. Banyak yang harus disyukuri, namun perasaan tetap berkata lain. 


Setelah pertimbangan yang serius dan mengesampingkan perasaan suami dan istri yang masih ingin bersama, 3 hari lagi pesawat yang ia tumpangi lepas landas. Kali ini, sungguh berat. Karena anak yang mulai berbicara dan menggemaskan semakin memberatkan langkahnya. Desahan semakin panjang.


Sanggupkah ? 

Bisakah tak menahan air mata ?

Mampukah rindu menjadi obat ?

Karena ia hanya candu bagi jarak yang terbentang..


Istri mulai menghitung mundur 5 jam. Perbedaan siang dan malam tak menjadi masalah. Hingga kabar berikutnya datang.. menyempurnakan keyakinan. Bahwa pilihanNya adalah yang terbaik, meski bukan yang kita inginkan.


Saudi kembali menutup akses masuk ke negaranya, termasuk Indonesia. Tak henti mengucap pujian dan syukur kepada Allah. Dibalik pilihan yang berat, ada pilihanNya yang indah. 


Mengingat beberapa hari yang lalu, setelah tes swab di RS Siloam. Melangkah dengan keraguan, hanya ada setitik keyakinan dalam hati, berharap ini yang terbaik. Kita sungguh tak pernah tahu. Tapi dengan melibatkanNya di setiap perjalanan, insya Allah.. Dia meridhai setiap pilihan yang kita jalani.


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Minggu, 17 Januari 2021

Umroh Pertama Berdua

14 November 2015

Kali pertama KITA Umroh bareng setelah beberapa bulan menikah, sekaligus membuka babak baru di Qassim. Just two of us. Masih malu-malu ala pengantin baru (lah emang?) :D


Meski LDR mengambil bagian terbanyak dari kehidupan rumah tangga KITA, namun tinggal berdua di Qassim adalah kenangan tak terlupakan (mudah2an nanti Allah beri kesempatan tinggal bertiga disana..Aamiin). 


Baru menikah dan harus tinggal jauh dari orangtua bukan hal yang saya harapkan sebelum menikah. Allah Yang Berkehendak dan kamu dengan segala keyakinan, penuh tanggung jawab siap menghidupi KITA disana dengan status mu yang masih ‘baru’ mahasiswa. Masya Allah. I always know u are a responsible man 😊


KITA banyak belajar disana..

banyak merelakan..

banyak menangis dan tertawa..

dan banyak bersyukur..

Pun, semoga seterusnya seperti itu, teman sampai syurgakuu ❤️


Saya dengan segala kekurangan dan kamu dengan kekuranganmu..

Saling melapangkan..

Saling menjaga..

Saling menghargai..

KITA mungkin belum melalui semuanya, tapi apa yang tlah kita lalui, hanya Allah Yang Tahu sayang.. and WE did it till now..6 years alhamdulillah..insya Allah selamanya.



dari yang mencintaimu karena Allah,

sambil memeluk albaar ditemani suara hujan.



Kamis, 01 Oktober 2020

Surat untuk Sahabat-sahabatku

Surat untuk Sahabat-sahabatku tersayang..

You know who you are..

Dari sekian teman-teman yang bersama saya, kalian yang paling lama dan betah untuk kenal dan dekat dengan orang seperti saya haha. Kalian menemani saya hampir di setiap fase kehidupan, mulai dari SD, terus kita berpisah saat SMP karena jarak dan beda sekolah, dekat lagi saat SMA, tambah dekat malah karena jalan bareng, nginap bareng, curhat bareng.. Sampai kita lulus SMA, dan kita saling menebak siapa yang akan nikah duluan. Hingga akhirnya saya yang paling pertama menikah, kalian pun ada disamping saya bahkan di malam sebelum saya Sah menjadi Istri seseorang, waahh.. you guys never leave me alone :”)

Entah persahabatan kita sudah sampai tahap mana, karena setelah menikah pun kalian masih ngajak saya main haha.. Semoga ga sampai tahap terusik dan terganggu ya. Di suratnya dzillan, katanya saya orang yang ga peka diantara kita ber5 dan jarang cerita masalahnya.. Tapi, support kalian, kehadiran kalian, obrolan-obrolan di grup kita yang kadang ga jelas itu always made my day. Always make me stronger. Sahabat rasa saudara, kata Fajri. Kita kayaknya saling melengkapi deh.. ciee haha. Dzhillan yang wanita karir, yang tangguh masya Allah. Fajri yang care, peka se peka peka nya haha. Yaya yang suka meloooww, tapi ternyata Ibu yang kuat Masya Allah. Dan Putri yang unik dan lucu hahaha akhirnya jadi bumil juga. Masya Allah.

Mungkin, intensitas kebersamaan kita tidak akan sama lagi. Tidak bisa jalan-jalan sebanyak dan sebebas dulu. Harus direncanakan jauh-jauh hari. Atau hanya saat-saat tertentu saja kita bisa bertemu. Karena masing-masing semakin sibuk dengan keluarga kecilnya. Tapi, do’a dan support untuk kalian selalu bersama kalian Insya Allah. Berharap persahabatan kita mengantarkan kita hingga ke syurgaNya. Aamiin. Saling mengingatkan yaah, dalam kebaikan dan kesabaran. Sebut nama kita satu per satu dalam do’a-do’a kalian. Kalau makan enak-enak juga, ingat-ingatkii.. hahaha. Jadi rindu makan diluar bareng..hiks. Insya Allah nanti kalau dzillan pulang, kita kumpul lagi ya.

Last thing, saya doakan semoga urusan-urusan kalian dimudahkan dan diberkahi oleh Allah. Dzhillan dimudahkan kerjaannya, dan hilal jodoh segera nampak Insya Allah. Yaya dimudahkan mendidik Aflahah menjadi wanita sekuat dan secerdas Ibunya. Fajri dimudahkan bisnisnya dan menjadi Ummi yang kuat untuk kedua anak shalihnya. Putri dimudahkan persalinannya, ditenangkan emosi dan pikirannya sebagai bumil hahaha. Kalau untuk putri, kayaknya tidak bisa yang terlalu serius. 


p.s : semoga kalian ga terlalu -jijique dengan kata-kata di surat ini.. karena setelah dibaca kembali, kayaknya agak gimanaa gitu ya hahaha

 

Love u fillah guys,

Iffah Karimah

 

 

Jumat, 12 Juni 2020

Memaknai Rasa Kecewa

Bismillah..

Dalam situasi saat ini, yang kita semua tahu ada banyak rasa yang tercampur aduk di dalamnya. Sedih, lelah, sakit, bahagia, lega, harap, cemas, bahkan kecewa. Semua silih berganti. Membuat diri kadang bertanya. Tahun ini, apakah kita akan baik-baik saja?

Meski sudah tahu dan sering menyampaikan ada hikmah dibalik setiap yang terjadi. Untuk tetap bersabar dan banyak berdoa. Tetap saja, ketika sesuatu terjadi atas diri kita, it feels so real. Dimulai dari sebelum ramadhan, saya tahu akan melewati ramadhan tidak seperti biasanya, tanpa sosok yang selalu dinantikan kepulangannya menjelang ramadhan. Berusaha menguatkan diri bersama Albaar (meski Albaar nampaknya fine fine aja sih hehe) sambil menunggu kepastian dia pulang. Setinggi harapan kami untuk melewati ramadhan bersama, sebesar itu pula rasa kecewa kian menghampiri. Kepulangan ditunda jadi pekan depan. Jadi bulan depan. Seterusnya, sampai akhirnya, terakhir kabar itu menjadi kepulangan ditunda hingga waktu yang tak ditentukan. Jadi, bukan 1 tapi berkali-kali kami di-PHP lah ceritanya. 

Tak usah ditanya lebaran idul fitri bagaimana. Sampai detik tulisan ini ditulis pun, dia belum pulang. Di sisi lain, sangat bersyukur dikaruniai keluarga inti yang besar dan ramai :D (gimana tuh inti tapi besar) Alhamdulillah, suasana lebaran di rumah tetap ramai dan syahdu. Kebayang gimana yang lain bisa lebaran sendirian, sedih ya pasti. Saya yakin, ramadhan kita tahun ini, doa-doa nya pada kenceng semua. Percayalah, this little virus sudah menjadi bagian dari sekian Rencana terbaik milik Allah yang lainnya sejak kapan tahun. Bukan sesuatu yang tiba-tiba apalagi dibuat-buat. Sudah ditakdirkan untuk kita semua. Allah pasti Mendengar semua doa-doa kita. Tunggu waktu terbaiknya saja. Ada yang sudah dikabulkan ? :)

Yes, setelah menelan pahit kecewa berkali-kali, rasa pahitnya sudah mulai berkurang, atau hati yang mulai kebas merasakannya? Alhamdulillah, Allah berikan kabar baik setelahnya. Entahlah, karena doa-doa yang tak pernah berhenti terucap bersama air mata kecewa, lalu berusaha untuk menerima takdirNya dengan hati yang lapang, bahkan mendengar kabar baik itupun kami berdua tidak terlalu merasa bahagia. Hanya rasa syukur terselip di hati, menemukan bahwa setelah kesulitan dan kekecewaan berkali-kali menghampiri, kemudahan yang datang setelahnya kami terima dengan hati yang begitu tenang. 

Teringat bahwa ini hanyalah dunia. Dan memaknai bahwa menghadapi semua yang terjadi, baik atau buruk, seharusnya kita tidak terlalu berlebihan menanggapinya. Tidak terlalu sedih ketika ia hilang. Tidak terlalu bahagia ketika ia datang. Menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Juga, Semoga bisa membantu kita menghadapi situasi saat ini. Untuk memahami semua perasaan, menerima segala takdir atas diri kita, menjadikannya lesson life yang mungkin kalau bukan karena this little virus, kita ga mungkin mendapatkannya. It takes a while, but worth it to try :)

Sekian tentang kecewa. Sungguh, proses yang melelahkan tapi Insya Allah akan menjadikan pribadi kita lebih dewasa dan bijak memaknai hidup hehe. Meski yang menulis masih sangat amat jauh dari itu semua. Tetap, ini proses. Mari kita enjoy the process. And wait for good things to happen.

p.s : Ada yang bisa tebak kabar baiknya apa? Hehe

Selasa, 27 November 2018

Jawaban dari do'aku


Hari itu kulihat semua orang khusyuk melantunkan doa’-do’a mereka, mengangkat kedua tangan berharap do’a mereka diijabah, menangis memohon ampunan dariNya. Hari itu rasanya sakral sekali, panas yang sedari pagi menyengat  tiba-tiba berubah mendung  seakan tahu, lalu kita berpencar mencari spot terbaik untuk menyendiri “mengakui segala dosa”.

“Ya Allah, 3 tahun sudah pernikahan kami. Saya sendiri tidak tahu apakah kami berdua sudah pantas Engkau amanahkan si penyejuk hati karena kami masih banyak kekurangan. Tapi saya janji Ya Allah akan terus belajar dan belajar. Ya Razzaaq Ya Wahhaab, karuniakan kami anak-anak yang sholih, lengkapi keluarga kecil kami dengan tawa dan tangisan mereka. Berikan kami kesempatan menjadi orang tua, kami janji akan menjadi orang tua yang baik dan amanah insya Allah. Tapi jika belum saatnya, berikan kami kesabaran dan kesyukuran yang tiada batas.  Hanya kepadaMu lah tempat kami berharap dan mengadu”

Sore itu, di Arafah, kugantungkan satu harapan terbesarku di langit. Berbekal keyakinan hari itu adalah hari terijabah nya semua do’a.

Sepulang dari Mekkah, dan selesainya semua rangkaian haji, saya mendaftarkan diri di Ma’had Al Fatayaat. Ma’had yang katanya dari 700an pendaftar hanya seperempatnya yang diterima. Tekadku sudah bulat, ingin menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan bahasa arab, bahkan sudah menggambarkan 2 tahun disana harus sudah menyelesaikan hafalan dan menguasai ilmu bahasa arab. Berdebar-debar saat mencari nomor ku di pengumuman penerimaan. Alhamdulillah, nomorku nyempil disitu. Kupastikan sekali lagi, kurefresh halamannya, kusuruh suamiku mengecek sendiri. Yes, I’m officially a student now. Tapi, rencana Allah selalu yang lebih baik terbaik.

Setiap pagi dijemput bis ma’had, lalu belajar sampai dzuhur di ma’had. Tiba di rumah, memasak lalu menunggu suami pulang yang kadang juga tiba bersamaan dengan bisku. Begitu tiap hari selama hampir 3 bulan. Kujalani dengan senang hati, betapa tidak? Bisa menjadi istri sekaligus mahasiswi, menyiapkan makanan untuk suami lalu sorenya belajar bersama. Menjelang ujian semester, kuperketat jadwal murajaah dan belajarku. Tapi akhir-akhir ini ada yang selalu mengusikku, 10 hari telat. Sebenarnya hal ini sudah biasa bagiku, tapi paling maksimal itu 7 hari. Kuberi tahu suamiku dan kami sepakat untuk beli testpack. Satu garis. Ah mungkin karena kecapean makanya belum datang.

Setelah ujian tahfidz di ma’had, sambil menunggu bis tiba-tiba gusiku berdarah sendiri, tapi kuabaikan begitu saja. Tidak terasa, ‘tamu’ belum juga datang setelah 14 hari, malam itu saya menemani suami ke apotek, membeli testpack yang lebih mahal dan bagus. Keesokannya, setelah shalat shubuh suami dengan sedikit memaksa agar saya cepat-cepat tes karena nampaknya si istri masih ragu. Ternyata masih satu garis…….eh muncul satu garis lagi masih buram, lama kelamaan menjadi jelas. Dua garis.

Do’aku dijawab dengan cepat. Segera ku bersungkur sujud syukur sambil meneteskan air mata. Best feeling ever.


Senin, 26 November 2018

Cerita haji part 3



Jujur, Haji adalah ibadah yang tidak bisa saya bayangkan akan mampu menunaikannya sampai maut menjemput. Bukan, bukan karena saya tidak pernah berdo’a atau ikhtiar menabung untuk naik haji kelak. Tapi, banyak sekali di sekeliling saya yang fisik dan materi nya sudah mampu tapi belum menunaikan haji. Mampu disini bukan hanya sekedar mampu tapi lebih dari cukup bahkan sudah ada yang keliling eropa dan asia tapi untuk pergi umroh saja nanti-nanti. Betapa kami ini sungguh haus akan hidayahMu, ya Rabb..

Alhamdulillah setelah suami menjemput dan pamit kepada ummahat yang telah menemani saya selama ldr-an, saya langsung bertemu dengan kedua mertua saya yang kala itu juga sedang menunaikan haji. Tidak ada yang istimewa selama menunggu hari Arafah selain panas yang semakin menjadi-jadi. Katanya, haji tahun ini adalah yang ter panas dari sebelumnya.
H-2 Hari Arafah. Kami menuju tenda di Mina yang telah disediakan pemerintah. Dari jendela kaca bis, saya melihat keluar dan terkagum-kagum karena sekarang spot yang biasa didatangi Jemaah umroh itu telah disulap. Tenda-tenda putih yang besar dan teratur, lautan manusia yang telah berihram, pedagang yang menyiapkan jualannya di dekat tenda. Saya segera mencari letak kamar mandi perempuan dan menghafalnya agar tidak tersesat. Maklum, semua tenda bentuk dan warnanya sama, isinya saja yang beda ; ada kulit putih, kulit hitam, mata sipit, tinggi besar, pendek kecil. Ketika antri kamar mandi pun begitu, saya dapati muslimah Thailand, Jepang, India, dan Cina. Jadilah percakapan 5 bahasa dalam satu ruangan.
H-1 Hari Arafah. Panas semakin terik dan tidak kenal ampun. AC dalam tenda pun meminta tolong -_- tapi semangat kami akan hari esok semakin berkobar. Hari ini, kami menyimpan tenaga untuk besok agar ibadah saat hari arafah bisa maksimal. Kami juga mulai memilah-milah barang yang akan dibawa ke Arafah, bawa yang praktis dan ringan saja. Malamnya, ketua rombongan menjelaskan tempat kita di Arafah itu sangat primitif “di dalam tenda tidak ada AC, tidak ada kipas, kalau berdiri kepala akan terbentur dan sangat sempit”.
Hari Arafah. Setelah shalat shubuh, kami antri untuk menaiki bis. Ada juga yang jalan kaki, tapi karena rombongan kami ada anak kecil dan banyak wanita maka ketua rombongan memutuskan untuk naik bis. Setibanya di Arafah, kami mencarilah tempat yang dijelaskan kemarin malam dengan bayangan di kepala, insya Allah mental siap tidak siap harus siap. Tenda putih besar, luas, terbuka, ada kabel colokan pula! Sepertinya salah tempat deh tapi beberapa orang yang kami kenali sudah duluan disana. Terdengar napas lega, sungguh lega dari beberapa orang disebelahku hahaha sepertinya bukan hanya mentalku yang belum siap. Tetapi, matahari semakin naik dan tenda yang terbuka mulai menimbulkan sedikit masalah. Tangan mulai mengipas, gantian kain ihram dipakai mengipas, panitia mulai membagikan minuman dingin seakan tahu yang kami butuhkan. Sesaat kemudian, datanglah kipas angin raksasa yang menjawab teriakan hati kecil para Jemaah haji. Maka, do’a-do’a pada hari ini semakin khusyuk dilantunkan. Sayapun mencari posisi tenang untuk berdo’a sendiri.
Kulantunkan do’a-do’aku dengan niat yang ikhlas, kupasrahkan semuanya, lalu kutemukan jawaban dari salah satu do’aku di kemudian hari..

Senin, 25 September 2017

Cerita haji part 2

Saat pilihan itu sudah ada meski kita tahu akan sangat sulit untuk dilewati, dan pilihan lainnya mungkin lebih mudah tetapi kita tidak tahu apakah ia akan datang tepat waktu ? yang manakah akan kalian pilih ?

H-16 It was a tough decision for us. Yang pasti, kita tahu Allah bersama kita. Suami yang selalu penuh dengan rencana hari itu memutuskan kita berangkat besok ke Mekkah lewat Madinah. "yang penting kita jalan dulu,dek" katanya. Setelah sampai di Madinah, kami memutuskan menginap untuk mencari teman yang akan berangkat ke Mekkah dalam waktu dekat. Pencarian ini berlangsung 3 hari, 2 hari pertama kami menginap di hotel jemaah indo depan mesjid nabawi. Hari ketiga nya, sebenarnya kami sudah tidak ada tujuan akan nginap dimana. Tapi malam sebelumnya, suami keluar dari raudhah tengah malam dan bertemu temennya Aba dan keluarganya. Dengan ragu, suami menyapa beliau dan langsung ditanya "nginap dimana?" setelah percakapan yang singkat itu, beliau menawarkan tempat untuk menginap besok. Alhamdulillah, setelah kejadian ini saya selalu menggodanya "masya Allah ciee abis berdoa di raudhah ya kak?" :D 

ah, 3 hari di Madinah yang sungguh mengharukan. Banyak doa-doa kami yang langsung diijabah, masya Allah. Membuat saya sendiri amazed dengan skenarioNya yang tidak pernah kami sangka. Setelah puas melepas rindu dengan kota Nabi, kami berangkat ke Mekkah bersama temen-temen indo. Perjalanan kami ke Mekkah seperti di film2, melewati padang pasir, kampung yang tidak dihuni, disuruh kembali lagi sama pak polisi, temen duduk yang membawa kucingnya. Oh, sungguh perjuangan menempuh perjalanan 7 jam sampai tiba di Mekkah, Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Tidak henti-henti whatsapp dari keluarga menanyakan posisi, dan mendoakan kami. 

H-12 Setibanya di Mekkah dengan selamat Alhamdulillah, kami langsung menuju markaz. Tempat bernaung saya selama beberapa hari kedepan sampai suami datang lagi menjemput. Markaz ini juga salah satu do'a kami yang diijabah karena kami tidak perlu lagi menyewa tempat yang harganya tiba-tiba selangit saat musim haji. Ditambah lagi, saya aman ditinggal karena banyak ummahat lain juga. Tadinya, suami akan tinggal saja di Mekkah sampai haji tapi, dipanggil demi memenuhi tasrih haji nya dari pihak kampus. Mau tidak mau, kami ldr-an singkat selama 2 pekan kayaknya? haha tidak tahu berapa lama yang jelas terasa lama sekali. 

H-7 suami datang menjemput!


Kamis, 14 September 2017

Cerita haji part 1

Rupanya, kejutan dari Allah Yang Maha Kuasa belum usai dalam episode kehidupan kami. Kepulangan kami ke Indo beberapa waktu lalu, memang membuat satu pertanyaan baru dari keluarga kami. “Kapan hajian?” pertanyaan yang sekaligus ‘sindiran’ ini menjadi topik hangat saat kami pulang, karena suami yang saat itu masih tertunda untuk menunaikan haji nya yang seharusnya jatahnya adalah 2 tahun lalu. Tapi, karena saat itu tahun kami menikah jadi belum sempat diurus dan suami sibuk mengurus visa kedatanganku, dan tahun berikutnya which is tahun lalu kami pulang ke Indo dan tiket balik ke Qassim itu setelah lebaran haji/idul Adha. Jadi, tepatlah sasaran pertanyaan itu mengenai kami saat kepulangan kami yang kali kedua ini. “Insya Allah tahun ini kau harus usahakan bawa istrimu haji” itu kata Aba-nya suami, atau “iya, janganmi pulang dulu, rasakan ramadhan full disana sekalian sama haji nya insya Allah nak” ini kata Ummiku yang entah antara nasehat dan tidak rindu-rindu amat sama anaknya :D Alhasil, selama kurang lebih 3 bulan suamiku yang lebih banyak disasar pertanyaan ketimbang diriku harus lebih banyak sabar dan berdo’a hehe it’s the beauty of marriage life, dear! Mendapat perhatian lebih dari 2 orang tua ditambah 1 nenekku yang sangat perhatian, lengkap sudah. Kami lupa, nasehat-nasehat yang selalu orang tua kami ucapkan sambil lalu ataupun saat kami diskusi menjadi do’a yang langsung menuju Dia Yang tak pernah tidur. Sebelum balik ke Indo, kami sudah membeli tiket pulang-pergi, dan jadwal balik ke qassim itu sebelum lebaran haji karena suami akan mengambil jatah haji nya tahun ini dan saat kami di Indo, Alhamdulillah namanya sudah terdaftar dalam list yang berangkat haji. Rencana kami saat namanya sudah terdaftar adalah fokus ke saya, karena yang terdaftar hanya suami saja. Sudah ada dalam rencana suami untuk membawaku juga saat dia haji dan akan meminta bantuan syeikh saat balik ke qassim nanti tapi kalau tidak bisa maka saya akan ditinggal di rumah selama dia berangkat. Ketika saya dikasih tahu, tidak bisa kubayangkan lebaran idul Adha sendiri di rumah. Lebaran idul Adha berdua saja itu cukup sedih ya gimana sendiri. Tapi manusia hanya berencana, Allah Yang Berkehendak. Tanggal 13 Agustus, kami terbang ke Qassim dengan harap-harap cemas.

Selasa, 24 Januari 2017

Pengen diskusi

Suhu 16 derajat malam ini mengantarkanku menulis blog sambil dibungkus selimut ditemani room heater yg menghangatkan kamar. Setelah hampir 3 bulan tidak menulis, sampe temen2 sudah tidak ada yang ingatkan lagi untuk nge blog haha akhirnya saya kembali menulis. Sebenarnya menulis tuh sudah beberapa kali tapi hanya menjadi draf saja tanpa pernah di publish. Wong nulis nya satu paragraf terus udahan, atau malah kurang dari satu paragraf. Kehabisan bahan kah? padahal kalau ber celoteh tak pernah kehabisan :)
Salah seorang muslimah yang aktif di sosial media dan mahasiswi di Berlin akhirnya membuatku menulis kembali. Dia menginspirasi saya agar lebih produktif lagi, sekecil apapun hal yg kita lakukan. Mengingat diri sendiri yang sudah tidak bersekolah resmi, jauh dari kampung halaman, dan kebanyakan di rumah ini ternyata membuatku berkata pada diri sendiri "harusnya alasan-alasan ini tidak menjadi halangan fah untuk berkontribusi atau bermanfaat bagi orang lain" toh banyak sekali orang diluar sana yang keliatannya tidak mampu bahkan tidak mungkin melakukan sesuatu untuk dirinya malah bisa bermanfaat bagi orang lain.
Malu sekali, ya Allah. Apalagi baru beberapa bulan lalu, diri ini ikut serta kegiatan organisasi. Muslimah yang saya cerita tadi itu, sering berdiskusi sama temannya tentang apapun yang bermanfaat dan inspiring tentunya, lalu di upload jadi kita yang nonton jadi tambah pinter aja nontonnya. Salut deh, meskipun masih ada kekurangannya tapi tetap ada nilai plus nya, apalagi akhir-akhir ini anak muda pada kerajinan nge vlog yang mungkin bisa untuk refresh tapi kontennya ga ada value nya sama sekali. Kosong aja nontonnya. Bahkan, ada yang upload kontennya parah sekali, tidak layak ditonton. Please, showering in the bathroom ??! Everything doesn't need to be talked about.
Padahal dulu waktu saya masih SMP, saya dihadiahkan 4 buku diary untuk menulis kegiatan sehari-hari saya di pesantren. Setiap saya selesai menulis diary, pasti saya gembok diary nya haha demi supaya ga ada yang baca. Tapi, ada kesenangan tersendiri setiap membaca lembaran cerita di buku diary saya yang pada akhirnya, Ummi adik semua sudah baca. Karena, yang baca adalah orang tepat. Tapi, sekarang kita makan bakso pun orang di negri sebrang mesti tau. Dan itu saya haha. Yeah, semoga belum termasuk kategori overshared ya.
Saya tidak mau nge judge orang-orang yang nge posting dia makan apa atau lagi dimana, toh itu masih umum dan saya pun nge post seperti itu jg tapi yang saya mau garisbawahi itu yang nge posting dia mandi lah, curhat soal rumah tangga nya, atau sesuatu yang provokatif yah pokoknya ga layak di share. Harusnya merasa malu yah, meskipun kita bebas berpendapat di sosmed tidak membuat kita kehilangan kontrol atas apapun yang kita share dan post.
Anyway, saya terinspirasi dari muslimah itu dan berniat membuat grup diskusi juga (more info on ig stories), setidaknya membuat kegunaan sosmed bermanfaat dan produktif. Meskipun jujur, ide ini hanya tiba-tiba muncul dan bukan bermaksud untuk menjadi narasumber atau apalah, hanya ingin mencari teman diskusi agar bisa saling buka pikiran dan wawasan. Biar pinter! :)

Wallahua'lam.

Jumat, 18 November 2016

Mixed feeling today

"Tebak saya dimana hai blog ku tersayang ? Makassar! kampung tercintaaahhh
Tidak butuh alasan untuk kembali ke kota lahir ku ini, karena sejatinya hati ini selalu kembali pulang.." Well, hanya 2 baris lebih yang sempat kutulis di Makassar kemarin, saat liburan selama 4 bulan dan hanya kusimpan sebagai draf meskipun sudah hampir 2 bulan di Qassim.

Kalau ditanya kapan momen yang paling bahagiamu, dari seluruh episode kehidupanku sekarang maka momen yang paling bahagia adalah sekarang. Dengan kesyukuran yang terus bertambah insya Allah. Dengan keputusan-keputusan yang telah saya ambil. Dengan orang-orang yang saya sayangi. Dengan kecintaanku pada Allah saat ini. Maka, bahagiaku saat ini adalah momen yang paling bahagia.

Kalau ditanya lagi apakah pernah menyesal dengan keadaanmu saat ini, setelah menikah lalu jauh dari orang tua itu bukan yang pernah kamu impikan. Rencana Allah ternyata lebih indah dari apa yang pernah saya impikan, saya pernah ingin menjadi dokter, tapi Allah mempertemukanku dengan teman-teman dari seluruh negara dan kami belajar bhs arab dan menghafal bersama. Saya pernah bermimpi kuliah ke negeri barat, tapi Allah menuntunku ke kota Nabi. Dunia itu sejatinya hanya tempat persinggahan menuju yang kekal, jannahNya. Allahumma Aamiin

Alhamdulillah, sekarang lagi libur tenang selama 1 pekan, karena pekan ini itu kita diantara ujian mid semester. Belajar disini itu pengalaman yang sangat berkesan, bertemu dengan orang-orang baru, sistem belajar nya beda, pergi ke tempat-tempat yang asing, yang kami berharap kami cocok disitu. Selalu merasa gelisah karena beda sendiri, karena kami asia banget, tapi mereka justru menyambut kami dengan hangat. memuji kami ketika kami melakukan hal kecil baik yang kalau di Indo tuh malah dianggap biasa saja. Baru-baru ini juga kami pindah sakan (lagi?!) yang tadinya saat tiba disini disewakan hotel untuk sementara lalu kami pindah ke sakan kami dulu tapi bukan di apartemen yang sama.

Selasa, 05 April 2016

A letter to my husband

بسم الله الرحمان الرحيم
-Opening-

I finally write this letter after few times  of considerations, and thoughts, and it's out. Why? First, because I'm still new at making romantically beautiful poem and second, I'm embarassed my letter will be read by the receiver :p haha

Dear my husband who keeps Istiqamah on His path,
Alhamdulillah for every blessings that He gives from the moment your parents came to me, asked my will to marry you until this second, we're sitting together, doing our school's stuff. Eventhough, there is always any kinds of difficulties that Allah gives to us, to get through every single year of our marriage. Which likely one of my Mother's friend said " if you pass the first five years, then you'll enter 'safe' zone". But, I believe, in shaa Allah, we'll get through years..to His heaven.

My husband who loves his wife because of Allah,
I can't deny how happy I am now as your wife, part of your life. Indeed, I am part of your life since before we're married, aren't I, my elemantary school's enemy friend ? :D

My husband who's turning 22 now,
Thank you, جزاك الله خيرا for bring me to place where Rasulullah was born, take responsibility of me, promise to my Mother and Father, choose to be with me in bad and good times, in happiness and sorrows.


April 2 2016
-Your 20 years old's wife-

*P.S: -saya menerjemahkannya dalam bahasa Inggris karena ada teman kelas saya (dari Eropa) di kampus yang penasaran apa yang saya tulis :) maaf bahasanya masih belepotan hehe
-I translate it into English for my dear friend, Diana. I hope we'll keep in touch even after school ends. Also, look forward to us communicate well in Arabic haha soon, in shaa Allah <3 font="">

Sabtu, 02 April 2016

Surat untuk Suamiku

-pengantar-
Saya akhirnya menuliskan surat ini setelah beberapa kali menimbang, memikir ulang, dan akhirnya terbit. Kenapa? Pertama, karena saya masih awam dengan puisi-puisi indah nan romantis. Kedua, malu dibaca sama si penerima, haha :)


Bismillah,
Suamiku yang Istiqamah di jalan-Nya,
Alhamdulillah atas segala keberkahan nikmat yang Allah berikan dari saat Ummi & Aba datang ke rumah hingga detik ini, kita duduk bersama , mengerjakan tugas masing-masing. Meskipun selalu ada kerikil-kerikil yang Allah jadikan ujian untuk kita berdua melalui tahun demi tahun pernikahan kita. Yang kata salah satu Ummahat, "lewatpi 5 tahun pertama, in syaa Allah sudah masuk zona 'aman' ". Tapi, saya percaya, biidznillah puluhan tahun akan kita lewati bersama..hingga Jannah-Nya.

Suamiku yang mencintai istrinya karena Allah,
Tak bisa kupungkiri bahagiaku sekarang menjadi istrimu, bagian dari hidupmu, yang bahkan sebelum menikah pun saya sudah menjadi bagian dari ceritamu kan, musuh teman sd ku? :D (sudah puitis mi kak? haha)

Suamiku yang berusia 22 tahun,
Terima kasih, hatur nuhun, Jazaakallah khaer yaa habibi telah membawa saya ke kota lahir Nabi, bertanggung jawab atas saya, berjanji pada ummi dan Abi, mau membersamaiku dalam suka dan duka dan telah merubah status kita. Uhibbuka fillah.


2/4/2016

-Istrimu yang berusia 20 tahun-

Kamis, 03 Maret 2016

Pulang sebelum puasa in syaa Allah

Bismillah
Kali ini saya tidak akan melanjutkan cerita saya, karena sepertinya saya sudah mulai agak-agak lupa dengan kelanjutannya haha. Bercanda ;p In syaa Allah nanti saya lanjut, mood nya bukan sekarang.

Kepastian saya jadi pulang ke kampung tercinta semakin bulat, Alhamdulillah. Rindu semakin membuncah. Sore tadi saya berbincang dengan adik bungsu saya, Alifa yang kata suami cara makannya mirip sama saya. Belepotan. Saya ingin dengar dia mengaji, ternyata sudah hafal al-fatihah meski masih campur-campur An-Naas. Masya Allah, padahal waktu saya tinggal baru bisa ta'awudz dan bilang "ahade" (dari surah Al-Ikhlas) Aduh, Alifaku sayang pintar sekali bikin orang makin rindu :)

Malam ini pun, setelah saya cek beberapa pesan dari teman SMA sekaligus teman rohis, ternyata mereka juga sama pintarnya dengan Alifa (bukan mengaji nya yah). Saya pun rindu, sahabatku. Tapi bahkan jarak pun sudah tidak menjadi halangan kita untuk bertemu (re:maya) lah, dari dulupun hati kita sudah terikat oleh ukhuwah fillah :)

 Untuk Ami lagi,
Alhamdulillah sehat mama Ami 
Tak sedikit kali saya melamun dan tiba-tiba mengingatmu
Lantas bertanya-tanya, kabarmu, tarbiyahmu, kesibukanmu, perasaanmu
Mungkin karena dulu kamu selalu menjadi tempat curhat pertamaku
Selalu menjadi pendengar terbaikku
Sekaligus menjadi penertawa ceritaku
Toh, rupanya sekarang kita sudah sama-sama dewasa
Maka saling menyimpan cerita layaknya orang dewasa itu sudah biasa
Setauku, persahabatan kita masih semanis dulu
dan setidaknya masih "selahap" dulu saat makan bersama :) ( read http://bit.ly/1VT338u so you can understand)

Mau bukti, mi? Nanti kita janjian makan nah pas saya balik ke Indo in syaa Allah ;)

Kamis, 18 Februari 2016

Pindah sakan

Setelah pindah ke sakan yang hanya berjarak 5 meter dari sakan kami sebelumnya, proses pindahnya pun masya Allah ber susah payah karena kami mesti nyebrang 2 kali karena jalan nya 2 jalur dan di tengah jalan itu pasir-pasir (u get it,right?) jadi otomatis barang yang se bejibun itu harus diangkat. Setibanya kami di sakan baru, yang sedikit lebih mini dari yang sebelumnya, yang mana juga lebih saya suka karena mudah dibersihkan! ternyata ada masalah dengan AC nya.

AC nya tidak mengeluarkan dingin. Padahal, diluar kalau siang panas sekali, kami pun meminta petugas sakan nya untuk mencari solusi. Akhirnya, dia memberikan kamar lain dulu untuk tidur saja sementara menunggu petugas AC nya datang yang entah kapan datangnya. Setelah beberapa hari AC kami tak kunjung diperbaiki, suami pun mencari petugas sakan kami dan kami disuruh pindah ke lantai 3 (awalnya lantai 1) jadilah, kami packing-unpacking 2x, alhamdulillah.

Bentuk nya sama persis dengan di lantai 1. Hanya saja yang ini dapurnya ada pintu nya. Yasudahlah, langsung unpack dan tepar ;p Esoknya, seperti biasa saya sendiri lagi di rumah menunggu suami pulang kuliah. Tiap menjelang siang itu saya selalu excited sendiri karena harus masak makan siang haha di kepala saya sudah mulai muncul 'tv show' saya masak apa, jadinya seperti apa, yang nyicip bakal komen apa mirip-mirip masterchef sudah. Tanya mas google, kak ita, Ummi kalau masak ini atau itu yang enak yang mana atau apalah yang bisa ditanya. Sebenarnya saya sendiri tahu, cuma saya tipe orang yang 'sedikit' riweh kalo mau masak haha makanya saya butuh temen ngobrol gitu, kan aneh kalo ngomong sendiri di dapur -_-'

Waktu itu saya goreng bakwan dari jam 11 siang, kenapa sampe adzan dzuhur belum ada yang jadi yah?! kompornya lama sekali panasnya, padahal itu kompor listrik, bentuknya mirip obat nyamuk yang bundar itu loh. Subhanallah, momen pindah sakan ini ternyata belum berakhir,kawan. Tapi waktu itu saya tidak terlalu kepikiran lagi. Ketika diajak ke sakan nya Amel (paling terakhir ke Qassim, dan seumuran dengan saya) untuk goreng-goreng bakwan. Ternyata, doi sudah mengganti kompornya dengan kompor listrik yang lebih canggih lagi pake touchscreen gitu. Jadi, bisa diatur suhu nya sampe 1000an derajat. Wuih, naluri emak-emak saya mulai beraksi. Tanya harga, belinya dimana, efisien atau tidak. 

Sepulang dari sakan nya Amel, kami musyawarah mengenai kompor obat nyamuk ini dan esoknya kompor baru itu telah menanti, Alhamdulillah. Saya cek lagi perabot-perabot yang di sakan. Saat semua beres, tidak ada lagi masalah, saya merasa yakin momen pindah sakan itu telah berakhir. Ketika itu, saya juga akan mengurus iqamah alias ktp saudi saya. First step nya adalah medical check-up di rumah sakit dan itu akan menjadi jalan-jalan pertama saya di Qassim yang agak jauh karena naik mobil ;) (haha semoga tidak keliatan kampungan sekali yah)


dapur berpintu dan kompor obat nyamuk

menjadi sebab saya ganti kompor haha

Alhamdulillah ;)

rizqu minAllah ;)


Jumat, 12 Februari 2016

Adaptasi di Buraydah

Bismillah..

Kami sudah memasuki 1 bulan disini, suami sudah mulai kuliah dan saya menunggu nya pulang ke rumah, waktu terasa sangat lambat. Ketika menjelang siang, saya baru mulai sibuk menyiapkan makan siang. Sekarang saya sendiri di dapur, pusing memikirkan bahan makanan mau disulap jadi apa, alhamdulillah masih ada bekas-bekas hasil rantauan 4 tahun, lumayan bisa masak nasi dan buat sayur. Alhamdulillah nasi saya belum pernah gosong kok, lauknya? step by step kata suami mulai meningkat haha. Kasian, jadi kelinci percobaan saya tiap memasak masakan baru.

Di Qassim ini beda sama Madinah, kalau di Madinah sekarang mudah mendapat bumbu dan bahan makanan Indonesia, kalau disini agak susah tapi Alhamdulillah ada tempe dan kangkung. Itu saja sudah surga dunia bagi saya sendiri. Daerah sakan kami sangat strategis, jadi kalau mau belanja, berjalan kaki juga bisa. Saya paling senang kalau diajak jalan hehe soalnya disini perempuan ga boleh keluar jalan tanpa mahram. Pertama kali keluar belanja itu semakin berasa luar negerinya, segala macam barang di rupiah kan dulu harga nya, mahal sekali ;') tapi harus selalu yakin, Allah selalu mencukupkan rezki hamba-hambaNya. Ada hikmahnya juga, biar lebih berhemat lagi, istri harus jago mengatur keuangan ternyata..hmm..

Setelah malam kesekian kalinya, akhirnya saya bertemu dengan ummahat indo lainnya yang sudah datang lebih awal dar kami. Mereka berkunjung ke rumah, satu nya sudah beranak 2, beranak 1, dan lagi hamil besar. Yang akhirnya, 6 ummahat Qassim ini akan saling whatsapp an untuk saling minta bumbu, gula, sayur, dll ;) bahkan sekarang kami mengadakan halaqah tahsin tiap sabtunya, Ukhuwah fillah ini semakin erat Alhamdulillah.

Cuaca disini masih panas jadi air yang keluar dari kran juga air mendidih. Kalau cuci piring pun saya sampe teriak-teriak, makanya juga kulit sampe kering bibir juga pecah-pecah. Padahal, saya di dalam rumah terus. Adaptasi rantauan kali ini memang tidak mudah, kawan. Tapi, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, in syaa Allah. Beberapa pekan kemudian nanti, akan memasuki musim dingin dan nama "Buraydah" bukan hanya sekedar nama kota yang saya tinggali.

Kami tinggal di sakan (lebih tepatnya funduq atau hotel) yang kami tempati pertama kali hanya 1 bulan lebih, karena kami harus pindah ke sakan depan (iya, pas depannya hanya menyebrang saja). Syukurnya, barang-barang kami belum terlalu banyak jadi yang diangkut tetap saja banyak tapi lumayan lah haha. Sedih, karena saya sudah jatuh cinta dengan dapur nya dan wi-fi gratis nya. But we must say goodbye...

dapur ku sayang

fried long rice for breakfast

on our way to shopping :)


Minggu, 20 Desember 2015

First time in Qassim

Bismillah.. setelah sekian lama vakum, akhirnya kembali lagi nge blog. Kemarin di wa sama temen smp suruh cerita lagi di blog. Baru nyadar ternyata saya punya blog -_- padahal pernah janji sama diri sendiri bakal rajin nge blog, taunya sudah nikah fokusnya ke yang lain (?) :p

Baiklah, fit (haha ya nama temen yg nyuruh nge blog lagi fitri) and readers, mulai dari mana yah ceritanya ? awal ke Qassim itu tak lain dan tak bukan ya karena ikut suami, hati kecil mah "asik ke luar negeri!" hehehe. Proses kesini pun ribetbetbet tapi Alhamdulillah dengan niat serta tawakkal yang kuat dari sang suami dibantu pula dengan do'a keluarga akhirnya jadilah visa sang istri (re:saya sendiri) :) kenapa ribet? proses buat visa nya dari suami izin ke syeikh, nungguin mau'id muncul yang mesti sambil online, ngitung-ngitung tabungan, medical check up ke Jakarta, nunggu visa keluar itu lah yang sudah kami lalui biidznillah. Beberapa hari sebelum berangkat pun saya bingung mau bawa apa yang akhirnya malah dibawa saja semua haha. Waktu itu belanja keperluannya berdua sama Ummi, makanya kekuatan shopping itu bertambah dua kali lipat ditambah lagi tidak ada suami haha maka jadilah satu koper besar yang isinya bahan makanan dan makanan. Kata suami "yang beginian adaji juga di Qassim dek" hehehe

Setelah tiba di Qassim, dengan total perjalanan 17 jam, subhanallah. Sesampainya di sakan, yang duluan tepar ya saya -_- karena suami masih libur, jadi kami menghabiskan sisa-sisa liburnya dengan jalan-jalan. Ternyata jauh dari dugaan saya, sampai kata suami "Qassim juga ada mal nya dek" hehehe :p seru nya disini tempat rekreasi keluarga nya itu di taman, bisa piknik bareng suami sambil makan albaik pun tak kalah enak dengan dufan nya indo. Yah, orang disini mah sukanya santai-santai sambil minum teh, ngobrol.

Setelah 2 pekan adaptasi dengan cuaca disini yang panas nya masya Allah, sampe-sampe ac di kamar tidak pernah dimatikan. Tiba-tiba maag melanda lagi, sampe muntah-muntah, suami sampai panik tidak tau mau gimana, akhirnya ke Rumah sakit terdekat dan lumayan bikin kantong menipis. Alhamdulillah setelah hampir seharian sakit dan diinfus beberapa jam, sudah baikan lagi. Ya Allah semoga tidak kejadian lagi! Untungnya hari itu hari terakhir suami libur jadi ada yang temani, yah disini cuma kenalnya baru suami saja, Alhamdulillah..

rencananya mau bawa ini juga!

before take off

Rabu, 06 Mei 2015

musuh sewaktu sd

Hai, kembali lagi dengan banyak cerita. Banyak sekali. Berkantong-kantong.
7 Desember 2014 resmi sudah saya menerima 'dia' yang best of the best from Allah, the Most Graceful :) (fyi, itu tanggal pelamaran)
Bahkan sampai hari ini saya tidak bisa berkata-kata. He is my old friend since 1st grade. Tidak pernah terbesit sekalipun bahwa dia. Dia adalah jawaban do'a-do'a kami selama ini. Kami, saya dan keluarga dan teman-teman yang turut mendo'akan. Haha kalo dia baca ini, pasti ngakak.
Akan saya ceritakan nanti in syaa Allah dari awal. Now, I would like to express what I feel tonight. Seperti kupu-kupu yang terbang dalam perut. Seperti paus yang berenang dalam lautan pandangan. Seperti panda yang sedang memeluk lengan. Serumit itu haha. Tidak mengerti juga dengan apa yang dirasakan iffah ini. Sederhananya, saya sangat bersyukur atas segala nya. Atas segala nya yang telah dimudahkan Allah Sang Pencipta💙🌈

Sabtu, 13 Desember 2014

Indah pada waktunya

7 Juli 2014
Allah telah menuliskannya di lauhul mahfuz beribu-ribu tahun silam..
Bahwa kami menyelesaikan hafalan kami disini, di tempat yang penuh kenangan ini, di rumah yang telah mencetak puluhan hafidzah sebelum kami. Walhamdulillahirabbil'alamiin.

Di pagi yang tenang itu, kami mengucapkan hamdalah lebih banyak dari biasanya, kami bersujud lebih lama dari biasanya (uda kayak 5cm aja hehe). Kami amat bahagia pagi itu. Setelah ritual khataman (menyetor setoran terakhir dan berdo'a), kami poto-poto, kami salam-salaman, oiya kebetulan hari itu hari lahirku. Allah Sungguh Maha Kuasa.

Selang beberapa hari setelah hari sakral itu #lebay setelah persiapan wisuda kami yang sungguh amat melelahkan tapi worth it, kami wisuda juga! Hari itu lebih sakral lagi tentunya.. Orang tua kami menyaksikan penamatan kami. Sungguh amat bahagia melihat wajah-wajah mereka yang berbinar-binar.

Tapi, jauh di lubuk hati kami, hanya kami yang mengerti betapa hari itu tidaklah terlalu berarti, bukan karena kami tidak berharap diwisuda. Bukan, hanya saja setelah 9 bulan yang sangat panjang itu, lama-kelamaan kami paham betul bahwa hari itu adalah awal dari perjuangan kami yang sesungguhnya. Bahwa hari itu hanyalah sekedar nilai-nilai duniawi. Maka, saat berbaris di atas podium hati-hati kami saling bertaut, saling menyiratkan pesan : "kawan, mereka tidak mengerti betapa 9 bulan kami diisi suka dan duka dan suka dan duka lagi. Sadarlah kawan, setelah kita keluar dari sini maka perjuangan kita yang sesungguhnya baru akan dimulai". Kami saling menggenggam tangan kuat-kuat. Sekuat tekad kami.

Dan disinilah saya, di kota Makassar, di halaman kampung tercinta. Sedangkan, teman-teman saya yang lain yang telah bertebaran menjalani episode kehidupan selanjutnya. Episode saya berikutnya...

Rabu, 22 Oktober 2014

Crystal heart

Saya, dengan beraninya mengambil kesempatan yang tidak akan pernah saya sesali itu. Karena sampai hari ini, Allah tiada hentinya memberikan rahmatNya Yang Maha Luas. Saya harusnya bersyukur, bukan? Makanya, tidak ada kata menyesal. Untuk sampai pada posisi ini, untuk sampai pada hari ini, saya akan banyak cerita. Satu-satu ya.

Saya kembali dari rumah sakit setelah 2pekan terkapar sampai ummi datang jauh-jauh sama hilman dan Alifa dari Makassar, padahal Alifa juga tidak boleh masuk kamarku. (Maaf sekali waktu itu, mi. Butuh ummi dulu.) Teman-teman pada cerita tentang apa saja yang saya lewatkan dan saya hanya pura-pura excited. Waktu itu, saya tetep kekeuh mau pulang. Saya mesti ngejar 3 juz ditambah dengan ujian pekan-an nya dan ujian bulanannya dan teman-teman saya sudah selesai semua itu. Alhamdulillah berhasil juga saya kejar. Kalau lagi kepepet mah, enak aja moodnya. Nah, mungkin karena waktu itu mood lagi enak hafalan udah sama dengan teman-teman, rasa ingin pulang sudah mulai berkurang. Waktu menelfon ummi, saya bilang tidak tau mau pulang atau tidak. Ummi cuma jawab, ummi tidak mau kamu pulang iffah nanti kamu menyesal terkadang yang kita tidak suka itu baik di mata Allah. Dan saya waktu itu akhirnya memilih yang baik di mata Allah, insya Allah.

Tapi, tetap saja saya masih mau lanjut kuliah. Saya pikir, nanti kuliahnya pulang dari sini semoga masih ada yang buka. Ummi juga mengiyakan. Dua bulan berlalu, hafalan kami sudah mendekati akhir, semakin banyak ujian mental. Apapun jadi masalah bagi kami, hal-hal kecil pun kami persoalkan. Padahal waktu itu, kami sudah maun khatam! Sampai saat ini pun, kalau lagi cerita-cerita soal khataman bawaannya ketawa aja, ngetawain diri sendiri! Masalah paling besar waktu itu cuma kami mau hari khatam nya bareng padahal ada yang hafalannya cepat ada yang lambat banget.. kami jadinya menyalahkan yang terlalu cepat harusnya ikuti ritme dong, yang terlalu lambat.. tidak tahu. Kecil, kan?

Nasehat mudir ku saat itu: "Kalian kan hafidzah semua ya setan yang menguji kalian uda bukan level setan yang gangguin orang baru pake jilbab! Setan yang gangguin udah canggih level nya, tameng kalian juga harus kuat." Seperti goku yang api nya memancar dari tubuhnya, kami menguatkan tameng ketakwaan kami. Kira-kira seperti itu :)

Jumat, 22 Agustus 2014

Kesempatan pertama

Tepatnya awal desember, salah satu teman daurah saya ceplos tentang salah satu program tahfidz (lagi) yang saat itu bagi saya tidak mungkin kesana. Pertama, karena jauh. Kedua, saya masih mau kuliah. Tapi, Allah seakan memberi karpet merah untuk kesana. Ummi langsung mengiyakan, yang terpaksa membuat saya berpikir keras entah berapa kali. Kuliah, mutqin, kuliah, dan mutqin dulu lah nanti kuliah.. 3bulan ini.
Tiba di tempat, ngeri ngeri ngeri.. berbeda sangat amat berbeda dengan yang kubayangkan. Serasa asing, aneh, males lah pokoknya. Tiap hari cuma pengen pulang. Pengen cepat kelar disini. Pengen cepat kuliah.
Beda suasana, beda pendapat, beda tradisi, dan saya benci dengan adaptasi lagi. Males aja. Trauma gitu (sok deeh) tapi ini beneran, saya langsung sms ummi (hp ku sembunyikan selama 3hari hehe) pengen pulang aja. Ummi balas banyak sekali nasihat tapi yang paling saya ingat adalah "Ketika  merasa sepi & sendiri, saat itu kita sedang belajar KETANGGUHAN." Bertahan fah, bertahan. Banyak sekali orang disini yang seumuran kamu bahkan dibawah mu tapi mereka membara semangat nya, demi hafalan. Begitu terus sampai 2bulan sampai di titik puncaknya, saya jatuh sakit. Lama sekali. Dan membuat saya berpikir banyak.

Allah memberikan saya kesempatan pertama. Pertanyaannya, maukah saya menaikinya?