Kamis, 04 Februari 2021

PILIHAN

 “Kak, ga tgl *** aja kita’ pulang? biar bisa lama-lama? yang lain juga begitu..”

“Nanti kita lihat ya.. saya pertimbangkan dulu”


Percakapan antar suami istri yang setengah terkejut karena pihak kampus mengabarkan bahwa mahasiswa indonesia harus segera pulang dalam waktu dekat. 


6 bulan. Durasi terlama ia pulang selama liburan tersebab pandemi. Banyak yang harus disyukuri, namun perasaan tetap berkata lain. 


Setelah pertimbangan yang serius dan mengesampingkan perasaan suami dan istri yang masih ingin bersama, 3 hari lagi pesawat yang ia tumpangi lepas landas. Kali ini, sungguh berat. Karena anak yang mulai berbicara dan menggemaskan semakin memberatkan langkahnya. Desahan semakin panjang.


Sanggupkah ? 

Bisakah tak menahan air mata ?

Mampukah rindu menjadi obat ?

Karena ia hanya candu bagi jarak yang terbentang..


Istri mulai menghitung mundur 5 jam. Perbedaan siang dan malam tak menjadi masalah. Hingga kabar berikutnya datang.. menyempurnakan keyakinan. Bahwa pilihanNya adalah yang terbaik, meski bukan yang kita inginkan.


Saudi kembali menutup akses masuk ke negaranya, termasuk Indonesia. Tak henti mengucap pujian dan syukur kepada Allah. Dibalik pilihan yang berat, ada pilihanNya yang indah. 


Mengingat beberapa hari yang lalu, setelah tes swab di RS Siloam. Melangkah dengan keraguan, hanya ada setitik keyakinan dalam hati, berharap ini yang terbaik. Kita sungguh tak pernah tahu. Tapi dengan melibatkanNya di setiap perjalanan, insya Allah.. Dia meridhai setiap pilihan yang kita jalani.


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Minggu, 17 Januari 2021

Umroh Pertama Berdua

14 November 2015

Kali pertama KITA Umroh bareng setelah beberapa bulan menikah, sekaligus membuka babak baru di Qassim. Just two of us. Masih malu-malu ala pengantin baru (lah emang?) :D


Meski LDR mengambil bagian terbanyak dari kehidupan rumah tangga KITA, namun tinggal berdua di Qassim adalah kenangan tak terlupakan (mudah2an nanti Allah beri kesempatan tinggal bertiga disana..Aamiin). 


Baru menikah dan harus tinggal jauh dari orangtua bukan hal yang saya harapkan sebelum menikah. Allah Yang Berkehendak dan kamu dengan segala keyakinan, penuh tanggung jawab siap menghidupi KITA disana dengan status mu yang masih ‘baru’ mahasiswa. Masya Allah. I always know u are a responsible man 😊


KITA banyak belajar disana..

banyak merelakan..

banyak menangis dan tertawa..

dan banyak bersyukur..

Pun, semoga seterusnya seperti itu, teman sampai syurgakuu ❤️


Saya dengan segala kekurangan dan kamu dengan kekuranganmu..

Saling melapangkan..

Saling menjaga..

Saling menghargai..

KITA mungkin belum melalui semuanya, tapi apa yang tlah kita lalui, hanya Allah Yang Tahu sayang.. and WE did it till now..6 years alhamdulillah..insya Allah selamanya.



dari yang mencintaimu karena Allah,

sambil memeluk albaar ditemani suara hujan.



Kamis, 01 Oktober 2020

Surat untuk Sahabat-sahabatku

Surat untuk Sahabat-sahabatku tersayang..

You know who you are..

Dari sekian teman-teman yang bersama saya, kalian yang paling lama dan betah untuk kenal dan dekat dengan orang seperti saya haha. Kalian menemani saya hampir di setiap fase kehidupan, mulai dari SD, terus kita berpisah saat SMP karena jarak dan beda sekolah, dekat lagi saat SMA, tambah dekat malah karena jalan bareng, nginap bareng, curhat bareng.. Sampai kita lulus SMA, dan kita saling menebak siapa yang akan nikah duluan. Hingga akhirnya saya yang paling pertama menikah, kalian pun ada disamping saya bahkan di malam sebelum saya Sah menjadi Istri seseorang, waahh.. you guys never leave me alone :”)

Entah persahabatan kita sudah sampai tahap mana, karena setelah menikah pun kalian masih ngajak saya main haha.. Semoga ga sampai tahap terusik dan terganggu ya. Di suratnya dzillan, katanya saya orang yang ga peka diantara kita ber5 dan jarang cerita masalahnya.. Tapi, support kalian, kehadiran kalian, obrolan-obrolan di grup kita yang kadang ga jelas itu always made my day. Always make me stronger. Sahabat rasa saudara, kata Fajri. Kita kayaknya saling melengkapi deh.. ciee haha. Dzhillan yang wanita karir, yang tangguh masya Allah. Fajri yang care, peka se peka peka nya haha. Yaya yang suka meloooww, tapi ternyata Ibu yang kuat Masya Allah. Dan Putri yang unik dan lucu hahaha akhirnya jadi bumil juga. Masya Allah.

Mungkin, intensitas kebersamaan kita tidak akan sama lagi. Tidak bisa jalan-jalan sebanyak dan sebebas dulu. Harus direncanakan jauh-jauh hari. Atau hanya saat-saat tertentu saja kita bisa bertemu. Karena masing-masing semakin sibuk dengan keluarga kecilnya. Tapi, do’a dan support untuk kalian selalu bersama kalian Insya Allah. Berharap persahabatan kita mengantarkan kita hingga ke syurgaNya. Aamiin. Saling mengingatkan yaah, dalam kebaikan dan kesabaran. Sebut nama kita satu per satu dalam do’a-do’a kalian. Kalau makan enak-enak juga, ingat-ingatkii.. hahaha. Jadi rindu makan diluar bareng..hiks. Insya Allah nanti kalau dzillan pulang, kita kumpul lagi ya.

Last thing, saya doakan semoga urusan-urusan kalian dimudahkan dan diberkahi oleh Allah. Dzhillan dimudahkan kerjaannya, dan hilal jodoh segera nampak Insya Allah. Yaya dimudahkan mendidik Aflahah menjadi wanita sekuat dan secerdas Ibunya. Fajri dimudahkan bisnisnya dan menjadi Ummi yang kuat untuk kedua anak shalihnya. Putri dimudahkan persalinannya, ditenangkan emosi dan pikirannya sebagai bumil hahaha. Kalau untuk putri, kayaknya tidak bisa yang terlalu serius. 


p.s : semoga kalian ga terlalu -jijique dengan kata-kata di surat ini.. karena setelah dibaca kembali, kayaknya agak gimanaa gitu ya hahaha

 

Love u fillah guys,

Iffah Karimah

 

 

Jumat, 12 Juni 2020

Memaknai Rasa Kecewa

Bismillah..

Dalam situasi saat ini, yang kita semua tahu ada banyak rasa yang tercampur aduk di dalamnya. Sedih, lelah, sakit, bahagia, lega, harap, cemas, bahkan kecewa. Semua silih berganti. Membuat diri kadang bertanya. Tahun ini, apakah kita akan baik-baik saja?

Meski sudah tahu dan sering menyampaikan ada hikmah dibalik setiap yang terjadi. Untuk tetap bersabar dan banyak berdoa. Tetap saja, ketika sesuatu terjadi atas diri kita, it feels so real. Dimulai dari sebelum ramadhan, saya tahu akan melewati ramadhan tidak seperti biasanya, tanpa sosok yang selalu dinantikan kepulangannya menjelang ramadhan. Berusaha menguatkan diri bersama Albaar (meski Albaar nampaknya fine fine aja sih hehe) sambil menunggu kepastian dia pulang. Setinggi harapan kami untuk melewati ramadhan bersama, sebesar itu pula rasa kecewa kian menghampiri. Kepulangan ditunda jadi pekan depan. Jadi bulan depan. Seterusnya, sampai akhirnya, terakhir kabar itu menjadi kepulangan ditunda hingga waktu yang tak ditentukan. Jadi, bukan 1 tapi berkali-kali kami di-PHP lah ceritanya. 

Tak usah ditanya lebaran idul fitri bagaimana. Sampai detik tulisan ini ditulis pun, dia belum pulang. Di sisi lain, sangat bersyukur dikaruniai keluarga inti yang besar dan ramai :D (gimana tuh inti tapi besar) Alhamdulillah, suasana lebaran di rumah tetap ramai dan syahdu. Kebayang gimana yang lain bisa lebaran sendirian, sedih ya pasti. Saya yakin, ramadhan kita tahun ini, doa-doa nya pada kenceng semua. Percayalah, this little virus sudah menjadi bagian dari sekian Rencana terbaik milik Allah yang lainnya sejak kapan tahun. Bukan sesuatu yang tiba-tiba apalagi dibuat-buat. Sudah ditakdirkan untuk kita semua. Allah pasti Mendengar semua doa-doa kita. Tunggu waktu terbaiknya saja. Ada yang sudah dikabulkan ? :)

Yes, setelah menelan pahit kecewa berkali-kali, rasa pahitnya sudah mulai berkurang, atau hati yang mulai kebas merasakannya? Alhamdulillah, Allah berikan kabar baik setelahnya. Entahlah, karena doa-doa yang tak pernah berhenti terucap bersama air mata kecewa, lalu berusaha untuk menerima takdirNya dengan hati yang lapang, bahkan mendengar kabar baik itupun kami berdua tidak terlalu merasa bahagia. Hanya rasa syukur terselip di hati, menemukan bahwa setelah kesulitan dan kekecewaan berkali-kali menghampiri, kemudahan yang datang setelahnya kami terima dengan hati yang begitu tenang. 

Teringat bahwa ini hanyalah dunia. Dan memaknai bahwa menghadapi semua yang terjadi, baik atau buruk, seharusnya kita tidak terlalu berlebihan menanggapinya. Tidak terlalu sedih ketika ia hilang. Tidak terlalu bahagia ketika ia datang. Menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Juga, Semoga bisa membantu kita menghadapi situasi saat ini. Untuk memahami semua perasaan, menerima segala takdir atas diri kita, menjadikannya lesson life yang mungkin kalau bukan karena this little virus, kita ga mungkin mendapatkannya. It takes a while, but worth it to try :)

Sekian tentang kecewa. Sungguh, proses yang melelahkan tapi Insya Allah akan menjadikan pribadi kita lebih dewasa dan bijak memaknai hidup hehe. Meski yang menulis masih sangat amat jauh dari itu semua. Tetap, ini proses. Mari kita enjoy the process. And wait for good things to happen.

p.s : Ada yang bisa tebak kabar baiknya apa? Hehe

Selasa, 27 November 2018

Jawaban dari do'aku


Hari itu kulihat semua orang khusyuk melantunkan doa’-do’a mereka, mengangkat kedua tangan berharap do’a mereka diijabah, menangis memohon ampunan dariNya. Hari itu rasanya sakral sekali, panas yang sedari pagi menyengat  tiba-tiba berubah mendung  seakan tahu, lalu kita berpencar mencari spot terbaik untuk menyendiri “mengakui segala dosa”.

“Ya Allah, 3 tahun sudah pernikahan kami. Saya sendiri tidak tahu apakah kami berdua sudah pantas Engkau amanahkan si penyejuk hati karena kami masih banyak kekurangan. Tapi saya janji Ya Allah akan terus belajar dan belajar. Ya Razzaaq Ya Wahhaab, karuniakan kami anak-anak yang sholih, lengkapi keluarga kecil kami dengan tawa dan tangisan mereka. Berikan kami kesempatan menjadi orang tua, kami janji akan menjadi orang tua yang baik dan amanah insya Allah. Tapi jika belum saatnya, berikan kami kesabaran dan kesyukuran yang tiada batas.  Hanya kepadaMu lah tempat kami berharap dan mengadu”

Sore itu, di Arafah, kugantungkan satu harapan terbesarku di langit. Berbekal keyakinan hari itu adalah hari terijabah nya semua do’a.

Sepulang dari Mekkah, dan selesainya semua rangkaian haji, saya mendaftarkan diri di Ma’had Al Fatayaat. Ma’had yang katanya dari 700an pendaftar hanya seperempatnya yang diterima. Tekadku sudah bulat, ingin menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan bahasa arab, bahkan sudah menggambarkan 2 tahun disana harus sudah menyelesaikan hafalan dan menguasai ilmu bahasa arab. Berdebar-debar saat mencari nomor ku di pengumuman penerimaan. Alhamdulillah, nomorku nyempil disitu. Kupastikan sekali lagi, kurefresh halamannya, kusuruh suamiku mengecek sendiri. Yes, I’m officially a student now. Tapi, rencana Allah selalu yang lebih baik terbaik.

Setiap pagi dijemput bis ma’had, lalu belajar sampai dzuhur di ma’had. Tiba di rumah, memasak lalu menunggu suami pulang yang kadang juga tiba bersamaan dengan bisku. Begitu tiap hari selama hampir 3 bulan. Kujalani dengan senang hati, betapa tidak? Bisa menjadi istri sekaligus mahasiswi, menyiapkan makanan untuk suami lalu sorenya belajar bersama. Menjelang ujian semester, kuperketat jadwal murajaah dan belajarku. Tapi akhir-akhir ini ada yang selalu mengusikku, 10 hari telat. Sebenarnya hal ini sudah biasa bagiku, tapi paling maksimal itu 7 hari. Kuberi tahu suamiku dan kami sepakat untuk beli testpack. Satu garis. Ah mungkin karena kecapean makanya belum datang.

Setelah ujian tahfidz di ma’had, sambil menunggu bis tiba-tiba gusiku berdarah sendiri, tapi kuabaikan begitu saja. Tidak terasa, ‘tamu’ belum juga datang setelah 14 hari, malam itu saya menemani suami ke apotek, membeli testpack yang lebih mahal dan bagus. Keesokannya, setelah shalat shubuh suami dengan sedikit memaksa agar saya cepat-cepat tes karena nampaknya si istri masih ragu. Ternyata masih satu garis…….eh muncul satu garis lagi masih buram, lama kelamaan menjadi jelas. Dua garis.

Do’aku dijawab dengan cepat. Segera ku bersungkur sujud syukur sambil meneteskan air mata. Best feeling ever.


Senin, 26 November 2018

Cerita haji part 3



Jujur, Haji adalah ibadah yang tidak bisa saya bayangkan akan mampu menunaikannya sampai maut menjemput. Bukan, bukan karena saya tidak pernah berdo’a atau ikhtiar menabung untuk naik haji kelak. Tapi, banyak sekali di sekeliling saya yang fisik dan materi nya sudah mampu tapi belum menunaikan haji. Mampu disini bukan hanya sekedar mampu tapi lebih dari cukup bahkan sudah ada yang keliling eropa dan asia tapi untuk pergi umroh saja nanti-nanti. Betapa kami ini sungguh haus akan hidayahMu, ya Rabb..

Alhamdulillah setelah suami menjemput dan pamit kepada ummahat yang telah menemani saya selama ldr-an, saya langsung bertemu dengan kedua mertua saya yang kala itu juga sedang menunaikan haji. Tidak ada yang istimewa selama menunggu hari Arafah selain panas yang semakin menjadi-jadi. Katanya, haji tahun ini adalah yang ter panas dari sebelumnya.
H-2 Hari Arafah. Kami menuju tenda di Mina yang telah disediakan pemerintah. Dari jendela kaca bis, saya melihat keluar dan terkagum-kagum karena sekarang spot yang biasa didatangi Jemaah umroh itu telah disulap. Tenda-tenda putih yang besar dan teratur, lautan manusia yang telah berihram, pedagang yang menyiapkan jualannya di dekat tenda. Saya segera mencari letak kamar mandi perempuan dan menghafalnya agar tidak tersesat. Maklum, semua tenda bentuk dan warnanya sama, isinya saja yang beda ; ada kulit putih, kulit hitam, mata sipit, tinggi besar, pendek kecil. Ketika antri kamar mandi pun begitu, saya dapati muslimah Thailand, Jepang, India, dan Cina. Jadilah percakapan 5 bahasa dalam satu ruangan.
H-1 Hari Arafah. Panas semakin terik dan tidak kenal ampun. AC dalam tenda pun meminta tolong -_- tapi semangat kami akan hari esok semakin berkobar. Hari ini, kami menyimpan tenaga untuk besok agar ibadah saat hari arafah bisa maksimal. Kami juga mulai memilah-milah barang yang akan dibawa ke Arafah, bawa yang praktis dan ringan saja. Malamnya, ketua rombongan menjelaskan tempat kita di Arafah itu sangat primitif “di dalam tenda tidak ada AC, tidak ada kipas, kalau berdiri kepala akan terbentur dan sangat sempit”.
Hari Arafah. Setelah shalat shubuh, kami antri untuk menaiki bis. Ada juga yang jalan kaki, tapi karena rombongan kami ada anak kecil dan banyak wanita maka ketua rombongan memutuskan untuk naik bis. Setibanya di Arafah, kami mencarilah tempat yang dijelaskan kemarin malam dengan bayangan di kepala, insya Allah mental siap tidak siap harus siap. Tenda putih besar, luas, terbuka, ada kabel colokan pula! Sepertinya salah tempat deh tapi beberapa orang yang kami kenali sudah duluan disana. Terdengar napas lega, sungguh lega dari beberapa orang disebelahku hahaha sepertinya bukan hanya mentalku yang belum siap. Tetapi, matahari semakin naik dan tenda yang terbuka mulai menimbulkan sedikit masalah. Tangan mulai mengipas, gantian kain ihram dipakai mengipas, panitia mulai membagikan minuman dingin seakan tahu yang kami butuhkan. Sesaat kemudian, datanglah kipas angin raksasa yang menjawab teriakan hati kecil para Jemaah haji. Maka, do’a-do’a pada hari ini semakin khusyuk dilantunkan. Sayapun mencari posisi tenang untuk berdo’a sendiri.
Kulantunkan do’a-do’aku dengan niat yang ikhlas, kupasrahkan semuanya, lalu kutemukan jawaban dari salah satu do’aku di kemudian hari..

Senin, 25 September 2017

Cerita haji part 2

Saat pilihan itu sudah ada meski kita tahu akan sangat sulit untuk dilewati, dan pilihan lainnya mungkin lebih mudah tetapi kita tidak tahu apakah ia akan datang tepat waktu ? yang manakah akan kalian pilih ?

H-16 It was a tough decision for us. Yang pasti, kita tahu Allah bersama kita. Suami yang selalu penuh dengan rencana hari itu memutuskan kita berangkat besok ke Mekkah lewat Madinah. "yang penting kita jalan dulu,dek" katanya. Setelah sampai di Madinah, kami memutuskan menginap untuk mencari teman yang akan berangkat ke Mekkah dalam waktu dekat. Pencarian ini berlangsung 3 hari, 2 hari pertama kami menginap di hotel jemaah indo depan mesjid nabawi. Hari ketiga nya, sebenarnya kami sudah tidak ada tujuan akan nginap dimana. Tapi malam sebelumnya, suami keluar dari raudhah tengah malam dan bertemu temennya Aba dan keluarganya. Dengan ragu, suami menyapa beliau dan langsung ditanya "nginap dimana?" setelah percakapan yang singkat itu, beliau menawarkan tempat untuk menginap besok. Alhamdulillah, setelah kejadian ini saya selalu menggodanya "masya Allah ciee abis berdoa di raudhah ya kak?" :D 

ah, 3 hari di Madinah yang sungguh mengharukan. Banyak doa-doa kami yang langsung diijabah, masya Allah. Membuat saya sendiri amazed dengan skenarioNya yang tidak pernah kami sangka. Setelah puas melepas rindu dengan kota Nabi, kami berangkat ke Mekkah bersama temen-temen indo. Perjalanan kami ke Mekkah seperti di film2, melewati padang pasir, kampung yang tidak dihuni, disuruh kembali lagi sama pak polisi, temen duduk yang membawa kucingnya. Oh, sungguh perjuangan menempuh perjalanan 7 jam sampai tiba di Mekkah, Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Tidak henti-henti whatsapp dari keluarga menanyakan posisi, dan mendoakan kami. 

H-12 Setibanya di Mekkah dengan selamat Alhamdulillah, kami langsung menuju markaz. Tempat bernaung saya selama beberapa hari kedepan sampai suami datang lagi menjemput. Markaz ini juga salah satu do'a kami yang diijabah karena kami tidak perlu lagi menyewa tempat yang harganya tiba-tiba selangit saat musim haji. Ditambah lagi, saya aman ditinggal karena banyak ummahat lain juga. Tadinya, suami akan tinggal saja di Mekkah sampai haji tapi, dipanggil demi memenuhi tasrih haji nya dari pihak kampus. Mau tidak mau, kami ldr-an singkat selama 2 pekan kayaknya? haha tidak tahu berapa lama yang jelas terasa lama sekali. 

H-7 suami datang menjemput!