Jumat, 12 Februari 2016

Adaptasi di Buraydah

Bismillah..

Kami sudah memasuki 1 bulan disini, suami sudah mulai kuliah dan saya menunggu nya pulang ke rumah, waktu terasa sangat lambat. Ketika menjelang siang, saya baru mulai sibuk menyiapkan makan siang. Sekarang saya sendiri di dapur, pusing memikirkan bahan makanan mau disulap jadi apa, alhamdulillah masih ada bekas-bekas hasil rantauan 4 tahun, lumayan bisa masak nasi dan buat sayur. Alhamdulillah nasi saya belum pernah gosong kok, lauknya? step by step kata suami mulai meningkat haha. Kasian, jadi kelinci percobaan saya tiap memasak masakan baru.

Di Qassim ini beda sama Madinah, kalau di Madinah sekarang mudah mendapat bumbu dan bahan makanan Indonesia, kalau disini agak susah tapi Alhamdulillah ada tempe dan kangkung. Itu saja sudah surga dunia bagi saya sendiri. Daerah sakan kami sangat strategis, jadi kalau mau belanja, berjalan kaki juga bisa. Saya paling senang kalau diajak jalan hehe soalnya disini perempuan ga boleh keluar jalan tanpa mahram. Pertama kali keluar belanja itu semakin berasa luar negerinya, segala macam barang di rupiah kan dulu harga nya, mahal sekali ;') tapi harus selalu yakin, Allah selalu mencukupkan rezki hamba-hambaNya. Ada hikmahnya juga, biar lebih berhemat lagi, istri harus jago mengatur keuangan ternyata..hmm..

Setelah malam kesekian kalinya, akhirnya saya bertemu dengan ummahat indo lainnya yang sudah datang lebih awal dar kami. Mereka berkunjung ke rumah, satu nya sudah beranak 2, beranak 1, dan lagi hamil besar. Yang akhirnya, 6 ummahat Qassim ini akan saling whatsapp an untuk saling minta bumbu, gula, sayur, dll ;) bahkan sekarang kami mengadakan halaqah tahsin tiap sabtunya, Ukhuwah fillah ini semakin erat Alhamdulillah.

Cuaca disini masih panas jadi air yang keluar dari kran juga air mendidih. Kalau cuci piring pun saya sampe teriak-teriak, makanya juga kulit sampe kering bibir juga pecah-pecah. Padahal, saya di dalam rumah terus. Adaptasi rantauan kali ini memang tidak mudah, kawan. Tapi, setelah kesulitan pasti ada kemudahan, in syaa Allah. Beberapa pekan kemudian nanti, akan memasuki musim dingin dan nama "Buraydah" bukan hanya sekedar nama kota yang saya tinggali.

Kami tinggal di sakan (lebih tepatnya funduq atau hotel) yang kami tempati pertama kali hanya 1 bulan lebih, karena kami harus pindah ke sakan depan (iya, pas depannya hanya menyebrang saja). Syukurnya, barang-barang kami belum terlalu banyak jadi yang diangkut tetap saja banyak tapi lumayan lah haha. Sedih, karena saya sudah jatuh cinta dengan dapur nya dan wi-fi gratis nya. But we must say goodbye...

dapur ku sayang

fried long rice for breakfast

on our way to shopping :)


4 komentar:

  1. Sering sering dong ka cerita tntng di sana


    *pembaca baru*

    BalasHapus
  2. Sering sering dong ka cerita tntng di sana


    *pembaca baru*

    BalasHapus